Siang itu betul-betul berkeringat Rasulullah, tampak oleh para sahabat kesungguhan dalam kerja Rasullullah, menggali, mengangkut pasir dan batu untuk membuat parit pertahan sekitar Madinah. Kerja ini memang melelahkan karena ukuran lebar 8 m dan kedalam 4 m cukup besar untuk ukuran parit. Tapi tidak ada pilihan melihat koalisi Quraisy, suku Ghotafan, yahudi dan suku-suku lainnya sangat berambisi untuk menghabisi kaum muslimin. Kiprah Rasulullah seperti di atas mengundang pujian Rabbul 'alamin. Sekaligus menandai tingkat kesulitan mengikut ketauladanan Rasulullah. Melihat dari ayat yang di atas menunjukkan bahwa hanya bagi yang berharap pertemuan dan pahala Allah, kemudian balasan baik di akherat dan banyaknya mengingat Allah saja ketauladanan dapat diikuti.
Akhir perjalanan segera berganti dengan awal tahun ajaran baru. Terjadi kesibukan yang luar biasa bagi orang tua untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah yang sesuai dengan pilihan. Tahulah bapak ibu, bahwa memilihkan sekolah bagi putra-putri berarti memilihkan di media tanam seperti apa nantinya akan tumbuh? Sadarkah bahwa peran me-yahudikan, menasranikan, memajusikan juga tentunya mengislamkan adalah ikhtiar orang tua? Dari yang sebelumnya fitrah dalam keislamannya. Maka karena memilih harus lebih hati-hati, kalau tidak, hanya akan menelan penyesalan di akhir nanti.
Fahan tujuan
Apa tujuan kita hidup di muka bumi ini? Dan apa tujuan yang kita arahkan untuk keluarga dan anak-anak kita? Kalau tujuannya agar anak kita cepat dapat pekerjaan, cepat menghasilkan uang yang membantu perekonomian keluarga, maka di kejuruan adalah yang cocok mengantarkan pada tujuan. Kalau nantinya menguasai ilmu dunia, melanjutkan di jenjang kuliah, dan mendapat pekerjaan yang layak atau setidak-tidaknya menjadi pegawai, maka di sekolah menengah umum (SMU). Tapi kalau tujuannya agar anaknya sholeh maka pilihannya adalah pesantren, walaupun tidak mesti ketinggalan dengan sekolahan pada umumnya. Atau bisa menjadi pilihan, sekolah-sekolah umum yang dikenal punya kegiatan ROHIS kuat, sehingga kesholehan yang menjadi tujuan mendapatkan kendaraan yang mengantarkannya. Ketika tujuannya sholeh tapi disemai di tempat yang tidak mendidik anak menjadi sholeh berarti salah jalan. Atau tujuannya dapat pekerjaan tapi disemai di tempat yang tidak mendidik pekerjaan. Memahami tujuan akan memandu seseorang tidak salah jalan atau setidaknya tidak terlalu lama diombang-ambingkan dalam kebingungan. Dan sudahkah para orang tua memahami kemana tujuan pendidikan anak-anaknya akan diarahkan? Jika pendidikan ini dikembalikan tujuannya kepada pendidikan Rasullah, maka tujuan itu selaras dengan penciptaan manusia di muka bumi ini, yaitu ibadah. Karena manusia diprogram dalam kehidupan ini untuk merealisasikan ibadah dalam segala sisi dari kehidupan, maka sekecil apapun aktifitasnya juga akan menuju kepada tujuan besar, sebab cukup menyita waktu, tenaga, dan dana.
Mengetahui Karakter dan Tabi'at
Ketika tujuan sudah ditetapkan, untuk sampai kepadanya haruslah mengenal betul tabi'at jalan yang akan mengantarkan. Seringnya orang putus di tengah jalan karena kehabisan bekal yang dibutuhkan, sementara masih tersisa jauhnya perjalanan. Atau terkejutnya dia terhadap dahsyatnya rintangan dan tantangan di jalan yang dilaluinya. Kesemuanya lebih disebabkan tidak mengenal jalan yang akan ditempuhnya. Jalan adalah sunnah, sehingga ketika berazzam mengikuti sunnah, berarti berazzam mengikuti jalan yang pernah dilalui oleh para sahabat, dan diikuti oleh kafilah-kafilah selanjutnya. Karena mengikuti di belakang Rasulullah dalam rentang waktu yang terpisahkan cukup lama, dibutuhkan keahlian mengenali jejak yang ditinggalkan. Diharapkan dengan jejak-jejak yang ditemukan, menyampaikan dan mempertemukan kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam.
Dari sini kaki kita berpijak, untuk meneropong seluruh bentuk sekolahan, kemudian meneliti dan menganalisa, sejauh mana jejak Rasulullah ditemukan di sekolah-sekolah yang ditawarkan. Kalau sekolah mengajarkan untuk mentauhidkan Allah, mengenalkan dan memahamkan tentangnya serta mengenalkan tentang syirik yang menjadi lawannya, berarti kita temukan jejak Rasulullah sebagaimana dulu beliau mengajarkan kepada para sahabat akan hal yang sangat penting ini. Perhatikan bagaimana Rasulullah mengajarkan dan mendidik kepada salah satu muridnya. "Dari sahabat Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku membonceng Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam di atas seekor keledai. Beliau bertanya kepadaku, "Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hambaNya dan apa hak hamba-hambaNya atas Allah? Aku menjawab, 'Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahuinya'. Maka Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hak Allah atas hamba-Nya adalah hendaklah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Adapaun hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzab siapa saja yang tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya". Maka aku bertanya, 'wahai Rasulullah, bolehkah aku beritahukan kabar gembira ini kepada orang-orang? Rasulullah berkata, "Jangan kamu beritahu sehingga mereka hanya berserah diri tanpa berusaha (HR. Bukhori Muslim)
Dan bila sekolah membina anak didiknya di samping dalam ketrampilan hidup dunianya juga ibadahnya dan membiasakan sunnah dalam kehidupannya berarti kita juga temukan jejak tarbiyah Rasulullah di dalamnya. Karena ibadah materi pokok kurikulum yang diajarkan Rasulullah kepada murid-muridnya. Sudahkah sholat jama'ah menjadi prioritas sekolah yang ditegakkan selama peserta didik masih dalam wilayah jam pembelajaran? Atau justru perkara yang ditinggalkan secara berjama'ah?
Perhatikanlah Rasulullah, begitu getolnya mendidik dan membina murid-muridnya dalam sholat, sehingga beliau ingin membakar rumah-rumah yang saat ditegakkannya sholat berjama'ah ditemukan di rumah-rumah tadi para lelaki yang tidak melaksanakan kewajiban menegakkan sholat berjama'ah di masjid sebagaimana yang dicontohkan. Masihkah ada sekolah yang menjadikan sholat berjama'ah menjadi bagian kurikulumnya?
Dan bila sekolah juga mengajarkan bagaimana berakhlakul karimah, seperti jejak-jejak itu menghias di setiap jalan tarbiyah yang diajarkan Rasulullah,
خياركم أحاسنكم أخلاقاً
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya".
Maka masih kita temukan jejak Rasulullah di dalamnya yang memungkinkan untuk mengikutinya. Jika hasil pengamatan kita ternyata banyak sekolah-sekolah yang nyaris tidak ditemukan lagi jejak Rasulullah, kenapa kita paksakan anak-anak kita di sana? Sementara setiap selesai sholat masih kita do'akan semoga menjadi sholeh. Ya, berdo'anya baik, bagian dari tawakkal kita kepada Allah, tapi bila ternyata yang kita tawakkali berada di tempat yang salah, dan sadar kita yang menempatkannya, bukanlah sama halnya kita menyesatkannya, atau perbuatan nekat yang mengundang para pencuri untuk mencuri hati, prilaku, akhlak dan masa depan anak kita untuk jauh dari Rasulullah? Sebelum sesal mengganjal akhir kehidupan selayaknya kita waspada menentukan pilihan.
Mempersiapkan bekal
Perjalanan jauh yang akan ditempuh tanpa diminta, bila kita menyadarinya akan mempersiapkan bekal ruh agar teguh, tubuh agar tangguh, kaki yang kuat agar tidak melepuh, dan juga bekal harta yang sungguh-sungguh. Maknanya, setiap misi dan keinginan membutuhkan modal untuk bekal, agar hasil yang dicapai bisa optimal.
Bekal ilmu adalah investasi berharga yang harus dimiliki sebelum menginvestasikan apa saja, termasuk anak-anak kita agar menjadi investasi amal yang handal.
Pastikan ilmu menggenangi hati, agar tertampak mana yang manfaat dan mana yang bukan manfaat. Ibarat air yang menggenangi cekungan tanah, akan membuat mengambang sampah dan membuat mengendap yang bermanfaat bagi tanah. Bekal harta tak kalah pentingnya, karena terkadang tujuan yang mulia harus dibeli dengan harga yang pantas untuknya. Seperti harga jannah, puncak kemuliaan, harga yang Allah tawarkan juga mahal dan tidak setiap orang bisa membeli secara asal. Kamu tidak akan mampu membelinya kecuali dengan mengikuti jejak para pendahulu sebelumnya (salafus sholeh), menemui, merasakan dan membuktikan seperti yang pernah mereka lakukan.
• •
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?"
(al-Baqoroh : 214)
Harus Ada Kesungguhan
Hampir selalu kesuksesan, keberhasilan bersanding dengan kesungguhan. Baik kesungguhan dalam menempuhnya, kesungguhan dalam menjalaninya dan kesungguhan dalam mempertahankannya. Al-Hafidz Abdil Bisyr menceritakan bahwa Masruq pernah mengadakan rihlah demi untuk satu huruf begitu pula al-Hasan al-Bashri. Ibnu Qosim mengatakan tentang al-Imam Malik, "Imam Malik telah merelakan demi mencari ilmu melepaskan atas rumahnya dan dijual kayunya (untuk biaya)".
Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir, "Imam Bukhori pernah bangun pada suatu malam dalam tidurnya kemudian menyalakan lampu, menulis manfaat yang terlintas padanya, kemudian memadamkan lampu, kemudian bangun lagi dan lagi sampai terulang hal itu tak kurang dari dua puluh kali" (al-Bidayah wan Nihayah 11/5).
Kalau tujuan sudah jelas, tabi'at jalan sudah kita kenali, bekal yang dibutuhkan sudah dimiliki, tinggal kesungguhan yang menyertai. Pahami tujuan dalam menyekolahkan anak, kenali sekolah mana yang akan mengantarkan pada tujuan, mencari bekal yang dibutuhkan dan jangan main-main soal memilih agar tidak salah memanen hasil di kemudian. Jika tidak ada sekolah yang mentarbiyah seperti tarbiyah Rasulullah, tanggung jawab tarbiyah sepenuhnya berpulang ke orang tua untuk menanggungnya. Namun bila ada yang meringankan beban tanggung jawab itu kenapa orang tua tidak mau berbagi dengannya. Yang sama persis dengan tarbiyah Rasulullah hampir tidak ada, karena banyaknya kekurangan manusia. Tapi yang mendekati jelas ada, pondok-pondok pesantren menjelma menjadi pengganti peran suffah yang pernah dibangun Rasulullah untuk menampung 400 lebih sahabat yang berkonsentrasi penuh pada belajar di sisi Rasulullah di samping sahabat lain yang di sekitarnya. Sekiranya Islam di Indonesia harus berlindung di benteng-benteng atas serangan musuh-musuhnya, benteng terakhir itu adalah pondok pesantren. Mati dan hilangnya sistem tarbiyah ini, akan menghancurkan fatal bangunan Islam, karena di dalamnya kader da'i dan orang-orang sholeh dilahirkan. Kaum muslimin punya pilihan yang menentukan, menjayakan sekolah-sekolah yang tidak mengajarkan tarbiyah Rasulullah, dengan dukungan anak-anaknya yang dikader di dalamnya. Dan biarkan Islam pudar bahkan mati maknawiyahnya, tersisa hanya identitasnya, atau menjayakan Islam dengan dukungan putra-putrinya di pondok-pondok pesantren, semoga Islam dengannya menjadi subur dan mengakar di bumi yang kita cintai ini. (Umar Faqihuddin)
Dalam tiap diri manusia, tentunya di karuniai oleh Allah dengan sebuah perasaan cinta. Cinta itu sendirilah yang bisa menimbulkan suatu bentuk emosi yang bergejolak terhadap lawan jenis kita. Bukanlah hal yang tabu lagi apabila kita menyukai lawan jenis kita kemudian tindakan yang akan kita lakukan untuk permulaannya adalah pendekatan dengan orang tersebut, yang kemudian pada perkembangannya nanti hubungan tersebut biasa dikenal dengan istilah “Pacaran” .
Sebetulnya pacaran itu sendiri tidak ada hukumnya dalam Islam. Pacaran adalah sesuatu yang tidak haram, karena pada dasarnya kebutuhan manusia adalah mendapatkan kasih sayang :
1) Kebutuhan untuk dicintai
2) Kebutuhan untuk mencintai
Karena dalam kehidupannya, manusia tidak mungkin mengabaikan cinta dan kasih sayang. Hidup dengan cinta rasanya bagaikan hidup di taman yang penuh dengan keindahan.
Cinta dapat mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang, karena :
1) Dengan cinta, seseorang dapat menjadikan dirinya menjadi seorang pemberani. Karena cinta itulah manusia bersedia mengorbankan tenaga, waktu , bahkan harta benda.
2) Dengan cinta itu pulalah, manusia dapat menjadi sosok yang lembut, penuh perasaan dan berbaik hati pada sesamanya.
Sedemikian besar pengaruh cinta dalam kehidupan kita, hingga dapat dikatakan bahwa hidup tanpa cinta itu berarti belum sempurna atau bisa dikatakan bahwa cacat jiwa kita.
Ketika getaran cinta muncul, mengakibatkan dua jenis manusia yang berbeda saling jatuh cinta. Seseorang akan jatuh cinta apabila dipengaruhi oleh faktor–faktor berikut :
1) Adanya sesuatu yang disukai dari obyek / orang yang ia cintai. Sebagai contoh : seseorang yang tertarik pada orang lain karena paraasnya yang cantik atau tampan .(hal tersebut sangatlah relatif )
2) Adanya persamaan antara 2 individu . Misalnya kecocokan dalam sifat – sifat dan kesenagan – kesenagan tertentu .
Adapun fase – fase dalam pacaran itun sendiri :
1) Fase pengenalan : diawali dengan perjumpaan pertama antara kedua pihak.
2) Fase jadian : ditandai dengan pernyataan tentang perasaan salah satu pihak dengan tujuan agar dapat menyatukan perasaan mereka .
3) Fase pembuktian cinta, pada fase ini terdapat berbagai konflik–konflik yang timbul yang panda intinya sebagai penguiji hubungan tersebut .
Menurut cara pandang Islam, pacaran itu boleh dilakukan apabila kita memenuhi syarat–syarat sebagai berikut :
1) Menjaga pandangan . Berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW “ Karena sebenarnya pandangan itu adalah anak panah iblis “ .
2) Tidak bolah berdua –duaan tanpa ada pihak lain.
3) Tidak boleh bersentuhan antara keduanya.
Nabi Muhammad SAW bersabda “Lebih baik bagimu menyentuh besi panas, daripada menyentuh wanita yang bukan mukhrimnya”
Alternatif paling baik untuk menyikapi pacaran menurutn Islam adalah “Pernikahan”.
Cinta adalah emosi dan kebutuhan seseorang untuk dicintai dan mencintai. Daya tarik orang yang dicintai tidak dilihat dari segi materi, biologi maupun fisik.
Kesimpulan dari uraian singkat ini :
Pacaran tidak haram ,menurut sudut pandang Islam, tetapi pacaran boleh dilakukan bila terdapat syarat–syarat dan dapat menjaga etika dan moral etika wanita muslim. “Karena wanita merupakan suatu perhiasan dan sebaik–baiknya perhiasan adalah wanita yang sholihah “
Dhanny Rizki Novianti
Tak seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita. Tulisan ini insya'allah membantu kita dalam usaha mulia itu.
Tsabat (kekuatan keteguhan iman) adalah tuntutan asasi setiap muslim. Karena itu tema ini penting dibahas. Ada beberapa alasan mengapa tema ini begitu sangat perlu mendapat perhatian serius.
Pertama, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam fitnah, syahwat dan syubhat dan hal-hal itu sangat berpotensi menggerogoti iman. Maka kekuatan iman merupakan kebutuhan muthlak, bahkan lebih dibutuhkan dibanding pada masa generasi sahabat, karena kerusakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.
Kedua, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama. Jika pada awal kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90 % maka saat ini jumlah itu telah berkurang hampir 5%. Ini tentu menimbulkan kekhawatiran mendalam. Untuk menga-tasinya diperlukan jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap memiliki kekuatan iman.
Ketiga, pembahasan masalah tsabat berkait erat dengan masalah hati. Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin." (HR. Ahmad, Shahihul Jami' no. 2361)
Maka, mengukuhkan hati yang senantiasa berbolak-balik itu dibutuhkan usaha keras, agar hati tetap teguh dalam keimanan.
Dan sungguh Allah Maha Rahman dan Rahim kepada hambaNya. Melalui Al Qur'an dan Sunnah RasulNya Ia memberikan petunjuk bagaimana cara mencapai tsabat. Berikut ini penjelasan 15 petunjuk berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah untuk memelihara kekuatan dan keteguhan iman kita.
Akrab dengan Al Qur'an
Al Qur'an merupakan petunjuk utama mencapai tsabat. Al Qur'an adalah tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa akrab dan berpegang teguh dengan Al Qur'an niscaya Allah memeliharanya; siapa mengikuti Al Qur'an, niscaya Allah menyelamatkannya; dan siapa yang mendakwahkan Al Qur'an, niscaya Allah menunjukinya ke jalan yang lurus. Dalam hal ini Allah berfirman: "Orang-orang kafir berkata, mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)." (Al Furqan: 32-33)
Beberapa alasan mengapa Al Qur'an dijadikan sebagai sumber utama mencapai tsabat adalah: Pertama, Al Qur'an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, karena melalui Al Qur'an, hubungan kepada Allah menjadi sangat dekat. Kedua, ayat-ayat Al Qur'an diturunkan sebagai penentram hati, menjadi penyejuk dan penyelamat hati orang beriman sekaligus benteng dari hempasan berbagai badai fitnah. Ketiga, Al Qur'an menunjukkan konsepsi serta nilai-nilai yang dijamin kebenarannya. Karena itu, seorang mukmin akan menjadikan Al Qur'an sebagai ukuran kebenaran. Keempat, Al Qur'an menjawab berbagai tuduhan orang-orang kafir, munafik dan musuh Islam lainnya. Seperti ketika orang-orang musyrik berkata, Muhammad ditinggalkan Rabbnya, maka turunlah ayat: "Rabbmu tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu." (Adl Dluha: 3) (Syarh Nawawi,12/156) Orang yang akrab dengan Al Qur'an akan menyandarkan semua perihalnya kepada Al Qur'an dan tidak kepada perkataan manusia. Maka, betapa agung sekiranya penuntut ilmu dalam segala disiplinnya menjadikan Al Qur'an berikut tafsirnya sebagai obyek utama kegiatannya menuntut ilmu.
Iltizam (komitmen) terhadap syari'at Allah
Allah berfirman: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki." (Ibrahim: 27)
Di ayat lain Allah menjelaskan jalan mencapai tsabat yang dimaksud. "Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran)." (An Nisa': 66)
Karena itu, menjelaskan surat Ibrahim di atas Qatadah berkata:-"Adapun dalam kehidupan di dunia, Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan kebaikan dan amal shalih sedang yang dimaksud dengan kehidupan akherat adalah alam kubur." (Ibnu Katsir: IV/421)
Maka jelas sekali, sangat mustahil orang-orang yang malas berbuat kebaikan dan amal shaleh diharapkan memiliki keteguhan iman. Karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa melakukan amal shaleh secara kontinyu, sekalipun amalan itu sedikit, demikian pula halnya dengan para sahabat. Komitmen untuk senantiasa menjalankan syariat Islam akan membentuk kepribadian yang tangguh, dan iman pun menjadi teguh.
Mempelajari Kisah Para Nabi
Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Apatah lagi sejarah para Nabi. Ia bahkan bisa menguatkan iman seseorang. Secara khusus Allah menyinggung masalah ini dalam firman-Nya: "Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah para rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran , pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (Hud: 120)
Sebagai contoh, marilah kita renungkan kisah Ibrahim Alaihis Salam yang diberitakan dalam Al Qur'an: "Mereka berkata, bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman, hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim maka Kami jadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi." (Al Anbiya': 68-70)
Bukankah hati kita akan bergetar saat merenungi kronologi pembakaran nabi Ibrahim sehingga ia selamat atas izin Allah? Dan bukankah dengan demikian akan membuahkan keteguh-an iman kita? Lalu, kisah nabi Musa Alaihis Salam yang tegar menghadapi kezhaliman Fir'aun demi menegakkan agama Allah. Bukankah kisah itu mengingatkan kekerdilan jiwa kita dibanding dengan nabi Musa?
Tak sedikit umat Islam sudah merasa tak punya jalan karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan misalnya, sehingga mau saja saat diajak kolusi dan berbagai praktek syubhat lain oleh koleganya. Lalu mereka mencari-cari alasan mengabsahkan tindakannya yang keliru. Dan bukankah karena takut gertakan penguasa yang tiranik lalu banyak di antara umat Islam (termasuk ulamanya) yang menjadi tuli, buta dan bisu sehingga tidak melakukan amar ma'ruf nahi mungkar? Bahkan sebaliknya malah bergabung dan bersekongkol serta melegitimasi status quo (menganggap yang ada sudah baik dan tak perlu diubah).
Bukankah dengan mempelajari kisah-kisah Nabi yang penuh dengan perjuangan menegakkan dan meneguhkan iman itu kita menjadi malu kepada diri sendiri dan kepada Allah? Kita mengharap Surga tetapi banyak hal dari perilaku kita yang menjauhinya. Mudah-mudahan Allah menunjuki kita ke jalan yang diridhaiNya.
Berdo'a
Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman, seperti do'a yang tertulis dalam firmanNya: "Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami." (Ali Imran: 8)
"Ya Rabb kami, berilah kesabaran atas diri kami dan teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami dari orang-orang kafir." (Al Baqarah: 250)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya seluruh hati Bani Adam terdapat di antara dua jari dari jemari Ar Rahman (Allah), bagaikan satu hati yang dapat Dia palingkan ke mana saja Dia kehendaki." (HR. Muslim dan Ahmad)
Agar hati tetap teguh maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak memanjatkan do'a berikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat akhir dalam shalat.
"Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada din-Mu." (HR. Turmudzi)
Banyak lagi do'a-do'a lain tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar kita mendapat keteguhan iman. Mudah-mudahan kita senantiasa tergerak hati untuk berdo'a utamanya agar iman kita diteguhkan saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Dzikir kepada Allah
Dzikir kepada Allah merupakan amalan yang paling ampuh untuk mencapai tsabat. Karena pentingnya amalan dzikir maka Allah memadukan antara dzikir dan jihad, sebagaimana tersebut dalam firmanNya: "Hai orang-orang yang beriman, bila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh-hatilah kamu dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya." (Al Anfal: 45)
Dalam ayat tersebut, Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang amat baik untuk mencapai tsabat dalam jihad.
Ingatlah Yusuf Alaihis Salam ! Dengan apa ia memohon bantuan untuk mencapai tsabat ketika menghadapi fitnah rayuan seorang wanita cantik dan berkedudukan tinggi? Bukankah dia berlindung dengan kalimat ma'adzallah (aku berlindung kepada Allah), lantas gejolak syahwatnya reda?
Demikianlah pengaruh dzikrullah dalam memberikan keteguhan iman kepada orang-orang yang beriman.
(Bersambung...)
Menempuh Jalan Lurus
Allah berfirman: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan-jalan (lain) sehingga menceraiberaikan kamu dari jalanNya." (Al An'am: 153)
Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk Neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat (HR. Ahmad, hasan)
Dari sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14 abad dari datangnya Islam cukup banyak membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. Lalu, jalan manakah yang selamat dan benar itu? Dan, pemahaman siapakah yang mesti kita ikuti dalam praktek keberaga-maan kita? Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits , jalan yang benar dan selamat itu adalah jalan Allah dan RasulNya. Sedangkan pemahaman agama yang autentik kebenarannya adalah pemahaman berdasarkan keterangan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya. (HR. Turmudzi, hasan).
Itulah yang mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran agama berdasarkan akal manusia yang tingkat kedalaman dan kecerdasannya majemuk dan terbatas. Tradisi pemahaman itu selanjutnya dirawat oleh para tabi'in dan para imam shalihin. Paham keagamaan inilah yang dalam terminologi (istilah) Islam selanjutnya dikenal dengan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah . Atau sebagian menyebutnya dengan pemahaman para salafus shalih.
Orang yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar dalam menghadapi berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka telah yakin akan kebenaran yang diikutinya. Berbeda dengan orang yang berada di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka akan senantiasa bingung dan ragu. Berpindah dari suatu lingkungan sesat ke lingkungan bid'ah, dari filsafat ke ilmu kalam, dari mu'tazilah ke ahli tahrif, dari ahli ta'wil ke murji'ah, dari thariqat yang satu ke thariqat yang lain dan seterusnya. Di sinilah pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj (jalan) yang benar sehingga iman kita akan tetap kuat dalam situasi apapun.
Menjalani Tarbiyah
Tarbiyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap muslim cukup banyak. Paling tidak ada empat macam :
Tarbiyah Imaniyah
yaitu pendidikan untuk menghidupkan hati agar memiliki rasa khauf (takut), raja' (pengharapan) dan mahabbah (kecintaan) kepada Allah serta untuk menghilangkan kekeringan hati yang disebabkan oleh jauhnya dari Al Qur'an dan Sunnah.
Tarbiyah Ilmiyah
yaitu pendidikan keilmuan berdasarkan dalil yang benar dan menghindari taqlid buta yang tercela.
Tarbiyah Wa'iyah
yaitu pendidikan untuk mempelajari siasat orang-orang jahat, langkah dan strategi musuh Islam serta fakta dari berbagai peristiwa yang terjadi berdasarkan ilmu dan pemahaman yang benar.
Tarbiyah Mutadarrijah
yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing seorang muslim setingkat demi setingkat menuju kesempurnaannya, dengan program dan perencanaan yang matang. Bukan tarbiyah yang dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.
Itulah beberapa tarbiyah yang diberikan Rasul kepada para sahabatnya. Berbagai tarbiyah itu menjadikan para sahabat memiliki iman baja, bahkan membentuk mereka menjadi generasi terbaik sepanjang masa.
Meyakini Jalan yang Ditempuh
Tak dipungkiri bahwa seorang muslim yang bertambah keyakinannya terhadap jalan yang ditempuh yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah maka bertambah pula tsabat (keteguhan iman) nya. Adapun di antara usaha yang dapat kita lakukan untuk mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan hidup yang kita tempuh adalah:
Pertama, kita harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh itu adalah jalan para nabi, shiddiqien, ulama, syuhada dan orang-orang shalih.
Kedua, kita harus merasa sebagai orang-orang terpilih karena kebenaran yang kita pegang, sebagai-mana firman Allah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang Ia pilih." (QS. 27: 59)
Bagaimana perasaan kita seandainya Allah menciptakan kita sebagai benda mati, binatang, orang kafir, penyeru bid'ah, orang fasik, orang Islam yang tidak mau berdakwah atau da'i yang sesat? Mudah-mudahan kita berada dalam keyakinan yang benar yakni sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sesungguhnya.
Berdakwah
Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan manusia dari adzab Allah.
Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman itu bisa bertambah dan berkurang.
Jika seorang da'i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.
Dekat dengan Ulama
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejahatan." (HR. Ibnu Majah, no. 237, hasan)
Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti diutarakan Ali bin Al Madini Rahimahullah: "Di hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad."
Bila mengalami kegundahan dan problem yang dahsyat Ibnul Qayyim mendatangi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk mendengarkan berbagai nasehatnya. Sertamerta kegundahannya pun hilang berganti dengan kelapangan dan keteguhan iman ( Al Wabilush Shaib, hal. 97).
Meyakini Pertolongan Allah
Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah dan meminta pertolongan Allah, tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang, bahkan yang dialaminya hanya bencana dan ujian. Dalam keadaan seperti ini manusia banyak membutuh-kan tsabat agar tidak berputus asa. Allah berfirman: Dan berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do'a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akherat. " (Ali Imran: 146-148)
Mengetahui Hakekat Kebatilan
Allah berfirman: "Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri ." (Ali Imran: 196)
"Dan demikianlah Kami terang-kan ayat-ayat Al Qur'an (supaya jelas jalan orang-orang shaleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam)." (Al An'am: 55)
"Dan Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah sirna, sesungguhnya yang batil itu pastilah lenyap." (Al Isra': 81)
Berbagai keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang beriman. Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada dalam keimanannya.
Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat
Akhlak pendukung tsabat yang utama adalah sabar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam:"Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabar-an." (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Tanpa kesabaran iman yang kita miliki akan mudah terombang-ambingkan oleh berbagai musibah dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapai tsabat.
Nasehat Orang Shalih
Nasehat para shalihin sungguh amat penting artinya bagi keteguhan iman. Karena itu, dalam segala tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita sering-sering meminta nasehat mereka. Kita perlu meminta nasehat orang-orang shalih saat mengalami berbagai ujian, saat diberi jabatan, saat mendapat rezki yang banyak dan lain-lain.
Bahkan seorang sekaliber Imam Ahmad pun, beliau masih perlu mendapat nasehat saat menghadapi ujian berat oleh intimidasi penguasa yang tiranik. Bagaimana pula halnya dengan kita?
Merenungi Nikmatnya Surga
Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan, kegembiraan dan suka-cita. Ke sanalah tujuan pengembaraan kaum muslimin.
Orang yang meyakini adanya pahala dan Surga niscaya akan mudah menghadapi berbagai kesulitan. Mudah pula baginya untuk tetap tsabat dalam keteguhan dan kekuatan imannya.
Dalam meneguhkan iman para sahabat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering mengingatkan mereka dengan kenikmatan Surga. Ketika melewati Yasir, istri dan anaknya Ammar yang sedang disiksa oleh kaum musyrikin beliau mengatakan: "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah Surga". (HR. Al Hakim/III/383, hasan shahih)
Mudah-mudahan kita bisa merawat dan terus-menerus meneguhkan keimanan kita sehingga Allah menjadikan kita khusnul khatimah. Amin.
Muhammad Shalih Al Munajjid, bit tasharruf waz ziyadah
Jalan tidak pernah terpisahkan dari kehidupan manusia, karena ialah sarana yang menyampaikan kepada banyak tujuan dan kebutuhan. Manusia semuanya melangkah menuju Allah dan butuh untuk selamat dari siksa Allah. Tapi pernahkah berpikir jalan yang dilalui adalah jalan yang menyampaikan ke tempat tujuan? Adalah jalan orang-orang beriman jalan kebenaran yang memiliki ciri khas tersendiri yaitu tidak akan pernah bertemu dengan jalan kebatilan kapanpun, di manapun. Dan tidak ada jembatan yang menghubungkan antara kebenaran dan kebatilan. Kebenaran bukan jual beli yang bisa kita tawar sedikit banyaknya harga yang diinginkan. Kebenaran adalah utuh sedikit dan banyaknya sama yaitu kebenaran yang tidak bisa dibagi. Maka memperjuangkannya secara utuh dan menyeluruh dari syarat yang kecil sampai yang besar. Pendukung kebatilan sangat ingin kita duduk bersama mereka, berbagi kekuasaan dalam perjuangan, berlemah lembut, saling membantu. Dan bahkan atas nama kerukunan saling berdoa bersama.
"Mereka ingin jikalau kamu berlemah mereka juga akan berlemah lembut" (QS. )
Apa yang ada di benak pikiran penyembah syahwat? Mereka ingin sekali kita menyimpang, ya.. menyimpang yang besar dari jalan kebenaran.
"Dan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya sangat menginginkan kalian menyimpang dari jalan Allah dengan penyimpangan yang besar (QS. An-Nisa : )
Sehingga mengikuti jalan mereka adalah jalan yang menyimpang yang takkan pernah sampai tujuan. Kebenaran adalah kesatuan yang takkan pernah bersanding dengan kebatilan, kemungkaran, terlebih kemaksitan. Siapa yang menolak zakat ia sama dengan menolak bersyahadat, karena yang ia tolak sebenarnya kebenaran. Siapa yang tidak beriman kepada para nabi atau salah satunya saja berarti ia tidak beriman kepada Allah karena yang tidak dia imani kebenaran. Siapa yang membangkan sunnah Rasululah berarti ia membangkang kepada Allah, karena yang ia bangkang adalah kebenaran. Maka pembawa kebenaran tidak pernah berserikat dengan pembawa kemungkaran, apalagi sampai duduk bersanding kursi membicarakan kebenaran sekalipun, karena toh ujungnya akan diingkari juga! Ia hanya duduk sesama pembawa kebenaran dalam alur yang sama. Di balik sikap tegas ini, kita pada sisi lain orang yang paling mudah dalam berurusan, banyak senyum, suka membantu, memberi ilmu, bahkan suka memberi kabar gembira , selama hal-hal di atas tidak menggores sedikitpun dari kebenaran yang menjadi prinsip. Mari kita berjalan di atas jalan sebenar jalan yang menyampaikan, sambil memahami karakter jalan ini. Agar tapak-tapak pendahulu kita kembali nampak, karena penerusnya sangat memperhatikan setiap tapak dan jalan yang pernah dilewati. Semoga bertemu di penghujung jalan nanti. Amin.
Seorang teman bertanya, "Kenapa kita harus kaya, toh itu justru menjadi ujian yang membahayakan agama? Bagaimana jika itu justru akan mengoyak ruhiyah kita?". Sebelum menjawab saya tersenyum dan balik bertanya, "Berapa anak yatim yang kamu biayai? Berapa janda dan keluarganya yang kamu tanggung biayanya? Berapa da'i yang kamu tanggung transportnya? Berapa sarana umat yang sudah kamu bangun? Berapa rupiah yang kamu titipkan dalam fie sabilillah untuk mengusir dan menghentikan musuh Allah yang membantai saudara seiman, merampas kehormatan muslimah?" dan belum lagi saya lanjutkan tangannya sudah diangkat bertanda cukup, sambil genangan air mata di sudut mati mulai membasahi pipi. Sepintas kisah di atas barangkali mewakili sedikit banyak prinsip hidup bahwa kaya untuk diri kita. Membangun misi adalah membangun pondasi sebelum bangunan itu tinggi dan besar yang rapuh menanggung beban di atasnya bila tidak kuat konstruksi yang dibangunnya. Sosok sahabat Utsman bin Affan bila kita sebut akan cepat mengembalikan kenangan dan ingatan, saat perang Tabuk membutuhkan dana besar. Sahabat Utsman datang dengan 300 uqiyah emas. Saat keping emas ditimang di tangan, baginda Rasulullah membisikkan kalimat, "Setelah ini tidak ada yang memudharatkan Utsman!". Kaya di tangan orang yang tepat akan berbuah manfaat. Kaya di tangan orang yang benar akan menambah mulia. Bukan semata kaya yang menjadi tujuan tapi tepat dan benar ini yang menjadi tetap dulu menjadi tujuan. Hanya persoalannya bagaimana agar bisa kaya dan bisa mulia? Ini fokus yang kita bicarakan. Sebenarnya sulit mana yang harus didahulukan, kaya dulu atau mulia dulu? Karena ini penting mendasari setiap langkah strategis dan formula handal yang akan dicoba. Kalau kaya dulu, kecenderungan orang lupa, karena orang kaya punya harta, harta dalam bahasa arab "maalun" artinya sesuatu yang membuat orang condong dan gandrung dengannya. Dan begitulah kenyataannya mayoritas motivasi pekerjaan yang dilakukan adalah harta yang ingin didapatkan. Dan bukti empiris tentang hal ini banyak di antaranya Qorun, Fir'aun, Tsa'labah dan deratan panjang lainnya.
Tapi kalau mulia dahulu yang kita kedepankan, akan mendidik diri semenjak kecil agar tidak lupa ketika besar. Di samping mulia adalah bahan bakar utama untuk menjadi kaya. Barangkali sempat bingung, sebab kita belum faham arti mulia. Mulia sering diterjemahkan dengan kedudukan tinggi, tapi sebenarnya mulia lebih tepat dimaknai "bermanfaat banyak untuk orang lain". Dan ini selaras dengan misi Rasul untuk menjadi manusia kaya manfaat bagi orang lain. Maka dari sini kita berpijak, kalau mau mengawali usaha, canangkan dulu manfaat apa yang bisa kita berikan kepada orang lain dengan usaha itu. Kemudian akan muncul azzam bahwa 2,5% hasil untuk mulia. Ada yang 8% untuk mulia seperti yang dilakukan ayam bakar Wong Solo yang punya cabang lebih dari 40 outlet di Indonesia. Bahkan Bill Gates orang terkaya di dunia hari ini mencanangkan 90% dari penghasilannya untuk mulia dengan kegiatan sosialnya. Itu belum seberapa dibandingkan dengan sahabat Abu Bakar as-Shidiq yang 100%, bukan hanya labanya tapi seluruh hartanya. Kalaupun mulia ini tidak dicanangkan dalam prosentase penghasilan, bisa juga dalam manfaat usaha.
Agar banyak orang dapat pekerjaan, agar masyarakat dp punya mobil terjangkau seperti misi perusahaan mobil, Ford. Agar masyarakat bisa mendapatkan rumah. Dan tidak ada yang lebih baik melebihi misi agar agama Allah terjaga. Seberapa hasil yang akan kita terima tergantung seberapa pengorbanan yang kita berikan. Karena ikan yang besar selalu didapat dengan umpan yang besar. Dan perlu diperhatikan, semakin manfaat dirasakan semakin hasil kita rasakan. Maka memberikan shodaqoh kepada yang lebih membutuhkan akan menuai kebaikan lebih. Seperti yang Allah sebut,
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan" (Al-Insan : 8).
Tapi semuanya perlu diingat beramal atau shodaqoh untuk mendapat balasa, selama berharapnya kepada Allah masih dibenarkan, walaupun yang terbaik adalah ikhlas baik dibalas atau tidak oleh Allah. Siapa yang memberi karena berharap manusia akan membalasnya, dia akan kecewa. Tapi siapa yang memberi berharap kepada Dzat yang Maha Kaya tidak akan pulang hampa. [Abu Ayyasy]
Manusia yang diberi anugerah akal oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala, sehingga dengannya ia lebih mulia dan lebih istimewa dibanding makhluq yang lain, seharusnya mempunyai kesadaran imani yang tinggi, menyadari bahwa alam semesta beserta isi-isinya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya semata, termasuk di dalamnya adalah manusia itu sendiri (Baca: Rububiyah Allah). Manusia harus sadar betul, bahwa dirinya adalah merupakan salah satu ciptaan Allah dan milik-Nya. Manusia tidak pernah merencanakan keberadaan dan kehidupannya di dunia ini, dan sebagaimana ketika ia telah hadir di dunia ini pun, tidak pernah merencanakan pula kematiannya. Allah sang Pencipta yang telah merencanakan semua itu.
"Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya". (Al-Mulk: 2)
Kesadaran akan kepemilikan Allah terhadap diri manusia akan melahirkan sikap yang sangat mulia, yaitu:
1. Rasa Tunduk dan Patuh kepada Allah Sang Pemilik yang Telah Menciptakannya.
Ketika seseorang mengetahui, bahwa dirinya berada dibawah kepemilikan dan kekuasaan Allah, dan menyadari, bahwa Allah menciptakan dirinya agar menjadi hamba-Nya dan menghambakan diri (beribadah) kepada-Nya semasa hidupnya, maka hidup di atas ajaran (syari`at)Nya sebagaimana petunjuk rasul-Nya, patuh dan tuduk kepada Allah Sang Pemilik adalah segala-galanya dan merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditawar.
2. Merasakan Keagungan dan Kebesaran Allah Subhannahu wa Ta'ala yang Tampak Pada Dirinya dan Pada Alam Semesta.
Alam semesta dengan segala keajaiban-keajaiban yang ada padanya dan manusia yang merupakan makhluk yang sangat unik bila dibanding dengan makhluk lainnya adalah menunjukkan betapa agungnya Allah, betapa besar kekuasaan-Nya, betapa luas pengetahuan-Nya, betapa sempurnanya Dia dan betapa besar karunia-Nya. Keagungan dan kebesaran Allah yang menghiasi hati manusia akan tampak pada kelumit kedua bibirnya, seraya menyadari kenyataan ini dengan mengucapan,
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka". (Ali Imran: 191)
Dari kesadaran ini ia merasakan kerendahan dirinya, kelemahan dan kerapuhannya di hadapan Allah. Maka dari itu ia merasa, bahwa manusia semua adalah sama seperti dirinya, milik dan ciptaan Allah Subhannahu wa Ta'ala tidak lebih dari itu, dan dalam pandangannya, manusia yang paling mulia adalah dia yang paling bertaqwa di hadapan Allah. Keagungan dan kebesaran Allah yang ia rasakan benar-benar telah menjadikan dirinya tawadhu' (bersikap rendah hati) terhadap sesama makhluk Allah, membuat dia merasa bersaudara, mendorongnya untuk saling menolong. Tidak terlintas sedikitpun di dalam benaknya rasa sombong terhadap orang lain, karena memang tidak ada yang pantas ia sombongkan, karena ia tahu, bahwa semua apapun kelebihan yang ada pada dirinya adalah karunia dan pemberian dari Allah Subhannahu wa Ta'ala.
Bahkan lebih dari itu, ia benar-benar merasakan bahwa Allah selalu melihatnya, mengetahui perbuatannya, mendengar segala ucapannya dan mengetahui jalan fikirannya, juga kondisi batinya. Kesadaran ini pada gilirannya membawa dia kepada sikap muraqabah dan hati-hati dalam berbuat, berkata dan bertindak.
3. Rasa Syukur dan Terimakasih atas Segala Karunia yang Telah Dia Berikan Padanya.
Bagi mereka yang sadar akan kepemilikan dan kebesaran Allah serta keagungan karunia-Nya yang ia rasakan akan membuatnya sadar, bahwa tanpa karunia dari-Nya ia tidak akan hadir di muka bumi ini dan tidak akan merasakan betapa kehidupan ini adalah ni`mat dan karunia dari-Nya. Oleh karenanya, mengakui Pemberi karunia, rasa syukur dan ucapan-ucapan terima kasih kepada-Nya akan selalu tampak dalam sikap dan ucapannya, seperti yang tergambar pada sosok hamba paripurna, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam,
"Ya Allah, apapun kenikmatan yang ada padaku pada pagi ini, atau ada pada siapu pun di antara manusia, maka itu semua berasal dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka hanya bagi-Mu lah segala pujian dan segala kesyukuran"
" Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku (Pencipta, Pemilik dan Pengaturku), tiada sembahah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah yang mencip-takanku, dan akupun menjadi budak-Mu, dan aku tetap berpegang teguh kepada janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku lakukan; aku mengakui semua karunia-Mu kepadaku, dan aku menga-kui pula dosa-dosaku, maka ampunialah aku. Sesungguhnya tiada yang mengam-puni dosa selain Engkau".
Do`a dan dzikir yang beliau ucap-kan itu menunjukkan betapa tingginya kesadaran Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam akan kerububiyahan Allah Subhannahu wa Ta'ala atas dirinya dan atas alam semesta ini (kedua do’a di atas adalah di antara sebagian dzikir pagi dan sore yang warid).
Sebaliknya, ketika manusia tidak sadar akan kepemilikan Allah atas alam semesta dan dirinya, maka lahir sikap dan sifat yang sangat tercela, seperti: sombong, angkuh dan kufur. Dari sinilah lahir berbagai macam penyakit ruhani dan penyakit-penyakit sosial yang sangat berbahaya.
Tidakkah orang yang angkuh dan sombong itu merasa dirinya adalah segala-galanya, tidak ada yang menandinginya, dan memandang orang lain rendah! Lalu dari situ ia berkeinginan agar orang lain menyanjung dan tunduk kepadanya?! Jangan engkau berharap ia tunduk dan patuh kepada manusia seperti anda, kepada Allah sang Pemilik dan Pencipta saja ia tidak mengakui dan tidak menyadarinya!
Lihatlah sosok manusia angkuh nan sombong yang diabadikan kisah-nya oleh Allah di dalam al-Qur'an untuk dijadikan sebagai `ibroh dan pelajaran. Dialah Fir`aun yang memproklamirkan diri sebagai tuhan dan memaksa rak-yatnya agar menyembah kepadanya. Fir`aun benar-benar telah melampaui batas. Dia tidak sadar, bahwa dirinya adalah milik dan ciptaan Allah yang sangat terbatas dan lemah, tidak dapat menghindarkan dirinya dari kematian! Kealpaan dari kesadaran akan kepemilikan Allah dan kekuasaan-Nya dari dirinya telah menyeretnya kepada tindakan merampas hak-hak prerogatif Allah Subhannahu wa Ta'ala. Ia buat atauran-aturan, lalu ia paksa manusia yang tidak berdaya untuk mematuhinya, termasuk keharusan menyembah dan mengagung-agungkannya. Dan jika mereka tidak mau tunduk, maka pedang terhunus selalu siap memenggal leher kepalanya.
Sesungguhnya banyak sekali manusia, kecuali orang yang dilindungi Allah, yang tidak menyadari kenyataan ini, berjalan di permukaan bumi tidak merasa dimiliki Allah, tidak sadar bahwa Allah mengetahui dan melihat seluruh apa yang ia lakukan, dan akan membalasnya nanti di akhirat. Akibat-nya, ia diperbudak oleh hawa nafsu, senang melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa, meninggalkan shalat, enggan bertobat dan berbuat kebajikan.
Untuk itu, sadarlah wahai manusia! Sesungguhnya jasad kita amatlah rapuh bila dibandingkan dengan makhluk lainnya, seperti batu, tanah dan lain-lain. Keistemewaan kita dari makhluk yang lain hanyah terletak pada akal kita. Akal kita pun sangat terbatas kemampuannya bila dibandingkan dengan kekuasaan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Maka, jangan anda tertipu dengan kecerdasan akal yang ada pada diri anda. Jangan sekali-kali anda menjadi congkak, sombong dan keras kepala karena akal dan nafsu anda, lalu tidak beriman kepada Hari Kiamat, karena anda pandang tidak masuk akal anda, sebagaimana teguran Allah,
"Dan apakah manusia tidak memperhatikan, bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), lalu tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata!". (Yasin: 77)
Mereka adalah manusia-manusia yang lupa akan asal kejadiannya, dan lupa pula ke mana akhir dari kehidupannya. Mereka tidak percaya kalau Allah akan membangkitkan dan menghidupkannya lagi, sebab menurut persangkaan dan akal tidak mungkin tulang belulang yang telah lebur akan hidup lagi, mustahil! Dengan congkaknya mereka menyanggah Allah, sebagaimana telah difirmankan:
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan ia lupa pada kejadian dirinya; ia berkata, "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?". (Yasin: 78)
Maka Allah pun memberikan jawaban yang telak untuk mereka, “Katakanlah, ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”. (QS. 36:79)
Maka kini giliran manusia yang harus menjawab pertanyaan dari Allah,
"Dan bukankah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu?
Kalau manusia masih belum mau tahu juga, maka Allah telah memberikan jawaban yang begitu gamblang,
“Benar, Dia berkuasa dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui” (QS. 36: 81)
Tunduk dan patuhlah kepada Allah yang telah memberikan kehidupan kepada kita, berimanlah kepada apa yang ia firmankan dan kepada apa yang disabdakan oleh Rasul-Nya. Ingatlah, usia kita bukan makin bertambah, melainkan makin berkurang; dan dengan begitu kematian segera akan menjemput untuk dihadapkan kepada Allah Yang Maha Kuasa Pemilik segala-galanya. Dan kalau ada manusia yang tidak mau tunduk kepada Allah, maka suatu saat dia pasti akan tunduk terhadap salah satu ciptaan Allah, maut! Baik dengan terpaksa maupun sukarela. Jika seluruh manusia tunduk terhadap maut, padahal maut tunduk terhadap Allah, maka apa tidak sepantasnya manusia itu lebih tunduk lagi kepada Penguasa maut?
Bukalah lembaran sejarah hidup-mu kembali, menolehlah ke belakang, lalu tanyakan, apa yang telah saya lakukan untuk hari kemudian?
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendak-lah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhi-rat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. 59:18)
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (QS 57:16)
Al Fudhail ibnu 'Iyadh, ketika mendengar seseorang membaca ayat ini dia berkata, "Benar wahai Rabb, kini sudah saatnya (untuk tunduk)!”. Beliau lalu bertaubat dari pekerjaannya sebagai pembegal, lalu Allah mengaruniakan kepada beliau ilmu. Marilah masing masing kita menjawabnya! Wallahu a'lam bish shawab. (Musthafa Aini) Buletin An-Nur
Dikalangan tertentu pacaran tidak dikenal, pun mereka tahu tetapi cenderung menghindari karena menganggap gaya itu tidak lagi mutlak dilakukan pada masa pranikah. Selain dinilai tidak sesuai dengan norma agama -ini terbukti dari pengalaman sepanjang sejarah keberadaan manusia bahwa pacaran cenderung kelewat batas bahkan tidak sedikit yang amoral- juga berkembangnya pemikiran bahwa satu kesia-siaan saja berjalan bersama orang yang belum tentu 100 % menjadi pasangannya. Ya, bagaimana mungkin bisa meyakinkan bahwa orang yang saat ini berjalan bersamanya memiliki komitmen untuk tetap ‘setia’ sampai ke jenjang pernikahan, la wong sudah sekian tahun berpacaran ternyata wacananya hanya sebatas curhat-curhatan dan take n give yang tak berdasar, tidak meningkat pada satu tindakan gentle, menikah! Atau setidaknya mengajukan surat lamaran ke orangtua si gadis. Berbagai dalih dan argumentasi pun meluncur untuk mengkamuflasekan ketidakgentle-annya itu, yang kemudian semua orang pun tahu itu cuma lips service dari orang yang tidak benar-benar dewasa alias childish.
Kedewasaan, ukurannya tidak terwakili hanya oleh umurnya yang diatas seperempat abad misalnya, tetapi juga pada sikap diri, attitude yang tertampilkan dalam kesehariannya. Dalam dunia pekerjaan, sikap dewasa dapat dilihat dari profesionalisme kerja, termasuk didalamnya kedisplinan. Dalam hubungan interelasi, bijaksana, proporsional dalam bersikap dan berbicara bisa jadi satu parameter kedewasaan. Nah yang menjadi masalahnya kemudian, tidak sedikit orang yang seharusnya bersikap dewasa justru memamerkan sifat kekanakkan saat berkesempatan bersama pasangannya, sikap yang dipraktekkan secara tidak proporsional dari ungkapan kasih sayang dan pengorbanan.
Orang terlihat dewasa mungkin hanya dari fisiknya saja, namun sisi lainnya seringkali luput dari perhatian. Padahal kedewasaan jelas meliputi beberapa aspek yang sekiranya patut diperhatikan dalam memilih pasangan yang kelak dinominasikan untuk menjadi pasangan hidup.
Dewasa secara fisik, dimana organ-organ reproduksi telah berfungsi secara optimal yang ditandai dengan produksi sperma yang baik pada pria dan produksi sel telur yang memadai pada wanita. Selain perkembangan sel-sel otot tubuh menandakan –sekaligus membedakan- pria dan wanita.
Dewasa secara psikologis, yang ditandai dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan, serta mampu menjalani hubungan interdependensi. Ini penting untuk diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan bersama dalam pernikahan.
Dewasa secara sosial-ekonomi ditampakkan dalam kemampuan seseorang untuk membiayai kebutuhan hidup yang layak sebagai suami-istri. Tentu hal ini terkait dengan adanya pekerjaan yang jelas serta penghasilan yang tetap, serta kesadaran akan meningkatnya biaya kehidupan dari waktu ke waktu seiring dengan bertambahnya anggota keluarga kelak.
Berdasarkan aspek kedewasaan diatas, maka wajarlah jika disatu sisi justru ada orang yang enggan berpacaran. Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa pacaran selain tidak diajarkan dalam agama Islam karena melanggar norma yang digariskan, juga dianggap ‘buang-buang waktu’, ‘wujud ketidakgentle-an’, ‘aktifitas sia-sia’ dan lain-lain. Namun sekedar diketahui, bahwa diluar itu ada sebagian yang memang benar-benar takut untuk mencintai, dicintai dan bahkan takut jatuh cinta. Dalam psikologi, orang-orang ini mungkin dianggap terkena sindrom fear of intimacy, satu kondisi yang disebabkan oleh ketakutan yang teramat sangat untuk menerima resiko kenyataan di kemudian hari. Seperti ditulis astaga.com, menurut psikolog Robert W Firestone dan Joyce Catlett, fear of intimacy ini adalah salah satu perwujudan dari pertahanan psikologis, yang lebih merupakan cermin dari pikiran dan sikap negatif atas hal-hal yang dilihat dan dipelajarinya waktu kecil.
Maka kemudian, Islam mengenal ‘pacaran’ dalam kemasan yang berbeda. Ustadz Ihsan Arlansyah Tanjung, konsultan keluarga sakinah di situs eramuslim sering mengatakan bahwa pacaran akronim dari ‘pakai cara nikah’. Ya, Islam hanya mengajarkan bentuk-bentuk curahan kasih sayang dan cinta itu setelah melalui satu proses sakral yakni pernikahan. Sementara proses pranikah yang dilakukan untuk saling mengenal antara calon pria dan wanita biasa disebut proses ta’aruf (perkenalan). Yang penting dari ta’aruf adalah saling mengenal antara kedua belah pihak, saling memberitahu keadaan keluarga masing-masing, saling memberi tahu harapan dan prinsip hidup, saling mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai, dan seterusnya.
Kaidah-kaidah yang perlu dijaga dalam proses ini antar lain nondefensif, tidak bereaksi berlebihan pada feedback negatif, serta terbuka untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru, Jujur, tidak curang, berbohong dan punya sense of integrity yang kuat, Menghormati batas-batas, prioritas dan tujuan calon pasangan yang menyangkut diri mereka maupun tidak, Pengertian, empati, dan tidak mengubah pasangannya sedemikian rupa serta tidak mengontrol, manipulatif, apalagi mengancam pasangan dalam bentuk apa pun.
Dalam tahap ini anda dan dia bisa saling mengukur diri apakah cocok satu sama lain atau tidak. Masing-masing pihak masih harus sama-sama membuka options/kemungkinan batal atau jadi. Maka umumnya dilakukan tanpa terlebih dahulu melibatkan orangtua agar tidak menimbulkan kesan ‘harga jadi’ dan tidak ada lagi proses tawar menawar, sehingga jika pun gagal/batal tidak ada konsekuensi apa-apa. Karena jika sudah sampai menemui orangtua berarti secara samar maupun terang-terangan seorang pria sudah menunjukkan niat untuk memperistri si wanita. Yang perlu jadi ingatan, seringkali pasangan-pasangan itu terjebak dalam aktifitas pacaran yang terbungkus sampul ta’aruf. Apa namanya bukan pacaran kalau ada rutinitas kunjungan yang melegitimasi silaturahmi dengan embel-embel ‘ingin lebih kenal’.
Jika sudah mantap atas pilihan masing-masing barulah kemudian melibatkan orang tua dalam proses selanjutnya, lamaran (khitbah). Untuk khitbah tak ada aturan yang kaku, yang penting dalam masa penjajagan keduanya berkenalan dan saling mengungkap apa yang disukai dan tidak disukai, saling mengungkap apa visi misi dalam pernikahan dan seterusnya. Tentunya khitbah harus tetap mengikuti aturan pergaulan Islami, tak berkhalwat, tak mengumbar pandangan, tak menimbulkan zina mata, hati (apalagi badan), tak membicarakan hal-hal yang termasuk kejahatan dan sebagainya.
Yang perlu disadari, khitbah mirip jual beli, dalam masa tawar menawar bisa jadi, bisa juga batal. Pembatalannya harus tetap sopan menurut aturan Islami, tidak menyakiti hati dengan kata-kata yang kasar, tidak membicarakan aib yang sempat diketahui dalam khitbah kepada orang lain. Namun sebagaimana jual beli harus ada prinsip kedua belah pihak ridho. Khitbah baru bisa berlanjut ke pernikahan jika kedua pihak ridho, jika salah satu membatalkan proses tawar menawar maka pernikahan tak akan jadi. Kalaupun dibatalkan (meski mungkin menyakitkan), harus ada alasan yang kuat untuk salah satu pihak membatalkan rencana nikah yang sudah matang. Sebab Islam melarang ummatnya saling menyakiti tanpa alasan. Jadi jika ada yang ragu (dengan alasan yang benar) sebelum menikah, sebaiknya membatalkan sebelum terlanjur.
Adapun jarak antara khitbah dan akad nikah, tidak ada aturan yang menjelaskan harus berapa lama, tentu dalam hal ini masing-masing pihak bisa mengukurnya sendiri. Satu hari bisa jadi sudah deadline bagi pria-wanita yang sudah sedemikian menggebunya hingga khawatir terjerumus kepada dosa zina. Namun jika bisa merasa ‘aman’ dengan menunda beberapa waktu tidak masalah.
Jadi, jika segalanya sudah terencana dengan matang dan baik, seperti kata seorang bijak, jika berani menyelam ke dasar laut, mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan … Wallahu a’lam bishshowaab (Abinya Hufha)